Tuesday, 16 August 2016

[Cerpen] Melihat Aku

MATA

Aku melihat aku yang terlihat sedang tertidur. Aku melihat aku yang ia gendong dengan kain bekas yang pernah menutupi mayat Mak Ijah tiga bulan lalu. Kain yang mungkin sudah empat puluh hari tidak dicuci dan sudah memiliki berbagai macam bau. Bau asap. Bau keringat. Bau jigong. Bau peju. Dan bau-bau lainnya yang tidak pernah aku hirup sebelumnya.

Ini adalah hari ketiga aku bisa melihat aku. Tidak tahu apa yang terjadi. Aku anggap ini sebuah keajaiban. Manusia hanya bisa melihat dirinya sendiri lewat sebuah kaca. Atau melalui bayangan di genangan air, sungai, dan tempat berair lainnya, walau tidak sejelas jika manusia melihat dirinya lewat sebuah kaca. Sedangkan aku bisa melihat aku tanpa sebuah kaca. Aku anggap ini sebuah kekuatan. Aku hebat. Aku bangga.

Mungkin itulah perasaanku, si anak usia empat tahun lewat empat bulan.

Hari ini ada ia. Namanya Mpok Laila. Setelah memberikan beberapa lembar uang senilai dua ribu, aku digendong dengan kain bekas mayat Mak Ijah. Kain yang baunya tiada tara. Setahuku Mak Tuti, adik Mak Ijah, memakai kain itu untuk mengelap peju yang ada di atas tubuhnya semalam. Sebelumnya aku sempat melihat ia bermain kuda-kudaan dengan Paman Usa. Di lain malam aku pernah melihat Paman Oyi. Atau dengan Jumi, seorang lelaki tampan yang sebenarnya seorang perempuan. 

Mungkin hanya aku, anak yang sudah diterangkan oleh Mak Tuti tentang apa itu peju. Bagaimana bentuknya. Baunya. Maka tak heran jika aku tahu kalau ada bau peju di kain gendongan yang sudah dilingkarkan ke badan Mpok Laila.

Jam lima kurang empat menit aku melihat aku masih berada di dalam kain gendongan Mpok Laila. Ia telah berjalan ke sekitaran lampu lalu lintas. Kecrekan yang terbuat dari tutup botol minuman soda selalu ia goyangkan seraya menyanyikan lagu. Aku melihat aku yang masih terlelap. Mungkinkah aku yang di sana sedang bermimpi indah? 

"Anak ini sudah mati tiga hari lalu. Dan Mak Tuti menyuntikkan formalin kepadanya, agar si anak tidak bau dan masih bisa disewakan meski sudah menjadi mayat."

Aku terkejut saat Mpok Laila bercerita kepada Mpok Suti. Ternyata aku yang di sana tidak sedang bermimpi indah. Aku yang di sana hanyalah seorang anak yang sudah menjadi mayat. Aku yang di sana hanyalah koleksi terbaru Mak Tuti. Dan aku tersadar bahwa Dodit, Adit, Mira, dan Ani, yang tubuhnya selalu disejajarkan di dalam lemari, adalah koleksi mayat Mak Tuti yang disewakan kepada para pengamen jalanan di ibukota.

Jakarta, 16 Agustus 2016
Di meja kantor penuh bungkus permen

27 comments:

  1. Mpok, baca cerpennya miris, langsung keinget bisnis minta2 yang penuh tipu muslihat. Betewe ini kisah nyata mpok? Kalau iya, sumpah.. Laknat banget sampe manusia yang g bernyawa masih dipake buat cari duit, kejaaaaaam!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini mah ngarang2nye aje gue :)) mudah2an di dunia nyata gak ada :(

      Delete
  2. aku melihat aku, judulnya hampir sama seperti mandi sabun mandi cerpennya mbak Djenar.
    pemilihan katanya juga sama seperti Djenar Maesa.

    ditunggu cerpen berikutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. cerpen yang 3 tahun lalu gue baca, tapi serius gue gak tau kalo ada yang menyangka judulnya hampir sama, karena gak kepikiran gegara cerpen itu sih hehehe :D

      Delete
  3. Ketjeeee mpok. Pas ending malah jadi rada horror ._.

    ReplyDelete
  4. Mayat yang digendong buat nyari duit? :(
    Horor juga, mana baca tengah malam juga huaaa

    ReplyDelete
  5. Gokiiiiiiiiiill..
    Pejuah banget, mpok..

    potret yang hampir mirip dengan keadaan dalam negeri tapi gak semiris itu..

    #DIRGAHAYUINDONESIA71

    ReplyDelete
  6. Buset Mak Tuti! btw peju baunya kayak apaan yak?!

    ReplyDelete
  7. ide bagus untuk bisnis di masa depan, terima kasih kak pin.

    ReplyDelete
  8. ide bagus untuk bisnis di masa depan, terima kasih kak pin.

    ReplyDelete
  9. Edan, merinding...untung gua bukan pas malem2 bacanya. Tapi gua juga pernah mimpi jadi arwah beberapa hari berturut-turut, terus ngeliat acara pemakaman gua sendiri. Aneh ya?

    ReplyDelete
  10. Nice point of view pin.... btw, emang ada sih hal semacam itu. Coba search aja mengapa bayi pengemis selalu tidur. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iyaya? gue malah gatau kalo emang beneran ada :D

      Delete
  11. Gak tau mau komen apaan, di bawah dilarang kasi komen yang ga nyebelin yak, terus ga pake bau porno ?? bau porno gimana sih.. Cerpennya kependekan lah, iyasih cerpen cerita pendek .

    ReplyDelete

Gih kasi komen. Asal jangan nyebelin, berbau SARA dan porno ye. Yang SPAMMING bakal gue HAPUS.

Makasi temen-temen. HAPPY BLOGGING! :*