Nasibku Menjadi Istri Orang Super Kaya

Nasibku Menjadi Istri Orang Super Kaya
Menjadi istri orang super kaya, apa rasanya?
Aku Kinanti, seorang istri dari pengusaha besar di Indonesia. Bisa dibilang suamiku masuk 20 besar orang terkaya di negeri ini. 

Sekarang, kuakui ia telah begitu berkembang, berkali-kali lipat sedari tiga puluh tiga tahun lalu kami menikah.

Di depan kamera kami selalu memperlihatkan keharmonisan. Kami dianggap sebagai pasutri kompak karena selalu mendukung satu sama lain. Sebagai seorang istri, aku pun membantunya untuk menjalani bisnis.

Sebagai komisaris, aku biasa mengawasi kegiatan perusahaan besar suami. Lalu menjalani program-program lembaga yang dibuat suami, aksi sosial, syuting, dan sebagainya.

Aku sibuk.
Ia pun sibuk.

Rumah kami besar, bahkan sangat besar. Sempat viral beberapa waktu lalu di media sosial, dan membuat para warganet berkata, "Wah, rumah Bu Kinanti malah lebih mewah dari hotel di kota kami!"

Mewah...
Besar...

Namun, percayalah, aku sering merasa kesepian di rumah ini.

Sebanyak apapun uang yang kupunya, tidak bisa membeli takdir semauku. Kalau boleh jujur, aku ingin selalu terlihat lebih muda terus menerus. Aku masih belum percaya sudah berkepala 5, kerutan masih saja ada di mana-mana meski aku sudah bolak-balik perawatan termahal di ibukota bahkan luar negeri. Aku belum puas dengan diriku sendiri, meski banyak yang bilang aku terlihat lebih muda 10 tahun dari usia asliku.

Hahaha. Tetap saja, di mata suamiku, aku hanyalah Kinanti yang sudah tua dan kalah cantik dari jejeran selebritis ibukota yang wara-wiri menggoda dirinya.

Sebenarnya tidak kuat diriku menceritakan hal ini...

Mengakui bahwa suamiku tidaklah sesempurna pencitraannya di televisi....

Suamiku hanya manusia biasa. Yang tak akan pernah merasa cukup dengan harta dan tahtanya.

Wanita itu. Aurinko. Ya, dia adalah istri simpanan dari suamiku.

Bisa dibilang Aurinko adalah salah satu figur ternama di negara ini. Dia terkenal setelah menjadi salah satu jebolan ajang kecantikan. Aku tidak menyangka dia tega merebut suamiku dan rela hamil sebelum menikah.

Tampaknya memang ia sengaja hamil, untuk mendapatkan kekayaan suamiku. Haha, tidak semudah itu, hey gundik!

Setelah melakukan investigasi, asistenku bilang, Aurinko diberikan uang bulanan minimal 3 miliar dari suamiku. Sial, berani-beraninya dia merampas hartaku!

Suatu hari, aku memberanikan diri untuk melabrak Aurinko. Aku katakan kepadanya....

"Baiknya kamu mundur saja. Kalau tidak, berarti jangan salahkan aku jika kamu tidak memiliki teman lagi!"

---

Beberapa hari setelah pelabrakan itu, aku menghubungi kawan-kawan terdekat Aurinko dan melakukan pertemuan tertutup. Kukatakan pada mereka bahwa aku sangat sakit hati dengannya.

"Sebagai artis, kalian pasti tidak mau kehilangan pekerjaan di industri ini, bukan?"

"Iya, Bu."

"Karir kalian bisa saja aku buat hancur dengan sekejap. Namun, aku takkan membuat kalian seperti itu. Selama kalian mau mengikuti permintaanku ini."

"Apa, Bu?"

"Tinggalkan Aurinko, keluarkan ia dari jejaring pertemanan kalian. Karena sepertinya, dia tidak mau kalah dariku. Sebarkan isu perselingkuhan ini ke media. Biar Aurinko malu!"

Setelah pertemuan itu, aku merasa puas. Karena seluruh media akhirnya memberitakan tentang Aurinko.

Hingga akhirnya, Aurinko menutup semua akun media sosialnya. Puncaknya, saat aku menonton acara hiburan yang berkata bahwa Aurinko pamit dari dunia entertain dan tidak lagi bergabung di dalam kelompok sosialitanya.

Hahaha, mau dia pamit, toh tetap mendapatkan fasilitas dari suamiku!

Lihat, dia sudah tidak punya teman lagi! Hahaha!

Hey gundik binal, ini pelajaran awal untukmu!

Di satu sisi, masyarakat menjadi semakin mengenali nama suamiku, yang mana menurutku bisa menjadi investasi jangka panjang.

Kelak suamiku akan menjadi pemimpin nomor satu di negeri ini. Maka dari itu, biarlah sekarang nama suamiku terdengar di berbagai media. Walau harus dari sisi negatif terlebih dahulu.

Di sisi lain, suamiku marah besar, karena merasa namanya tercorengkan.

"Mengapa kamu berbuat ini? Aku tidak mau memperburuk namaku di muka publik!"

"Lho, bagus, dong. Semakin buruk akan semakin masuk dan teringat di benak masyarakat. Lagi pula, anggap saja sebagai pembelajaran diri buatmu!"

"Kinanti, saya sudah memberikan segalanya buatmu. Yang saya mau, kamu harus tunduk denganku!"

Kutinggalkan ia sendiri di dalam kamar. Segera aku menuju ruang kerja di rumah.

--

Namanya juga suami istri, yang namanya cekcok tidak bisa lama-lama, iya, kan? Paginya, aku meminta maaf kepada suamiku dan merayunya untuk mau menemaniku mengambil rapor sekolah anak bungsu kami.

"Tidak jauh dari kantor, kok. Mau kan kamu menemaniku ke sekolah?"

Wajahnya masih masam saja.

Saat kami sudah berada di sekolah, wali kelas berkata bahwa nilai Awreen semakin lama semakin menurun saja. Mungkin karena suasana hati suamiku yang masih tidak enak sehingga dirinya spontan berteriak kepadaku.

"Kamu tidak bisa urus anakmu dengan benar, kah? Mengapa ia bisa sebodoh itu dengan pelajarannya?"

"Hey, anak itu tanggung jawab bersama! Kamu saja tidak pernah mengajak ngobrol Awreen lagi kan akhir-akhir ini? Ya iyalah, kamu terlalu fokus dengan gundik yang baru kamu hamili itu!"

Aku lalu melengos saja. Beberapa guru yang melihat pertengkaran kami di sana, lalu meminggirkan diri dan tampak kemudian berbisik-bisik.

"Hey, kalian para guru! Jangan bergosip, ya! Urus sana murid kalian, jangan sampai bodoh dan gak bermoral!"

Sudah sekian kalinya suamiku mengomel di saat kami berada di tempat umum. Terutama di sekolah Awreen, anak bungsu kami. Sebenarnya aku malu, namun lama-lama aku merasa harus selalu terbiasa dengan situasi ini.

"Mami, mau pulang bareng denganku?" tanya Awreen yang ternyata diam-diam menguntitku di belakang.

"No, Mami ada urusan. Kamu pulang duluan saja. Atau bareng Papi."

"Mami, maafin aku, ya. Aku belum bisa jadi anak yang sesuai harapan Mami."

Ku hentikan langkah.

"It's ok, baby. Sejelek apapun nilai kamu, ya kamu tetap jadi anak Mami-Papi."

Kami berpelukan. Dan berpisah sejenak.

---

Siang sungguh terik, membuatku ingin berkunjung ke salon langgananku. Lalu aku menghubungi Jesika, salah satu perempuan muda yang aku kenal dari salah satu bar ibukota.

"Jes, temani aku nyalon, yuk. Habis itu temani aku ke Plaza Indonesia dan bar biasa."

Tidak lama, Jesika hadir di depanku. Memang hanya dia satu-satunya orang yang selalu hadir secara kilat di kala gundahku.

"Tante, ketimbang jalan-jalan terus, apa tidak sebaiknya Tante istirahat saja? Biar beban di pikiran sedikit hilang, gitu. Mau ke apartemenku? Barangkali bosan dengan suasana rumah," kata Jesika sembari ikut perawatan.

"Boleh, deh. Tante sudah lama juga tidak main ke apartemenmu."

"Ya, walaupun apartemennya tidak semewah rumah Tante, tapi kan bikin lebih nyaman hati. Hehehe."

Aku tersenyum.

Sebenarnya, setiap kali aku gundah karena berbagai masalah, aku pasti sedikit menyegarkan pikiran dengan melakukan kegiatan bersama dengan Jesika.

Bisa dibilang, Jesika sangat paham dengan apa yang aku mau. Dia juga pintar meracik berbagai minuman enak, karena memang dahulu ia bekerja sebagai peracik di bar langgananku.

Dan bisa dibilang lagi, Jesika adalah anak angkatku. Aku memberikannya berbagai fasilitas, bahkan jabatan di kantor, walau tidak tinggi. Namun aku pernah menjanjikannya jabatan bagus, jika dia bisa membuktikan bahwa kinerjanya dapat diacungi jempol.

"Tidak usah memberikan jabatan yang macam-macam, lah. Aku tidak mau terlalu merepotkan Tante," katanya setelah mendengarkan janjiku itu.

Jesika... Hanya kamulah yang tampak ikhlas dan sabar mendengarkan keluh kesahku...

Kamu tampaknya lebih menerima aku apadanya...

Bahkan lebih dari suamiku sendiri....

(Bersambung)

9 comments:

  1. Lama nggak lihat berita. Jadi ga bisa menerka siapa. Tapi kalau dari profilnya, jelas dia pengusaha dan berkecimpung di poltik. Calon presiden mendatang? hemmm

    ReplyDelete
  2. waw... masih rajin ngeblog mpok. Ngeliat temen-temen dulu yang ngeblog udah pada ilang hiks. Kalo iseng bisa mampir di blog gue juga mpok, samasimi.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. ((gundik binal))

    Awalnya gue kira ini mau semacam cerita interview atau apa gitu mpok. ternyata kayak cerpen ya. Eh, atau ini cerita beneran dari kisah nyata di Indonesia? o.o Ditunggu lanjutannya, Mpok!

    ReplyDelete
  4. kak aku masih setia menjadi readernya kak irvina dr jaman baheula

    ReplyDelete
  5. super lama ga mampir mpok pinah...
    baca crita ini ngingetin ama drakor valakor :(

    ditunggu lanjutannya mpok :))

    ReplyDelete
  6. Coba dong kulik abis ttg ani2 nya raden yg terbaru

    ReplyDelete

Gih kasi komen. Asal jangan nyebelin, berbau SARA dan porno ye. Yang SPAMMING bakal gue HAPUS.

Makasi temen-temen. HAPPY BLOGGING! :*

Powered by Blogger.