Tentang Nadi Si Aktor Bergengsi

Inilah kisah pendekku, semoga dapat mengurangi rasa penasaranmu. (source)

Banyak orang yang mengatakan bahwa aku salah satu aktor berbakat dan paling berprestasi di negara ini. Berawal dari bermain FTV dan sinetron, skill aktingku diasah hingga begitu tajam sehingga begitu berguna untuk karirku.

"Beb, jangan capek-capek, dong," kata pasanganku sembari bermanja-manja setelah aku sampai apartemen.

"Demi passion, demi karir, demi bisa hidup, beb. Aku gak bakal ngerasa capek selama aku suka menjalaninya."

"Ah, kamu ini... gak sayang sama badanmu?"

"Lho, kamu juga gak sayang sama badanmu? Subuh-subuh gini masih seger aja. Bukannya tidur."

"Aku terlalu khawatir sama kamu. Kadang aku takut kamu suka sama perempuan karena sering akting sama artis-artis cantik. Hal ini bikin aku gak bisa tidur, tahu!"

Aku langsung mencium Robby dengan mesra, untuk menandakan bahwa cintaku hanya untuknya seorang.

-----

Buat yang belum tahu, kenalin, aku Nadi. Sebut saja begitu, ya.

Sedari kecil aku memang bercita-cita sebagai aktor profesional. Untuk mengawalinya, aku mencoba menjadi model majalah dan keberadaanku di saat itu saja sudah diakui di industri hiburan.

Menjadi model hanyalah batu loncatanku supaya bisa berkenalan dengan banyak orang di industri idaman. Beruntungnya, aku ditawarkan untuk bermain sinetron dengan rating yang lumayan bagus. Tak lama, aku pun ditawari untuk bermain film, walaupun... ya, bukan film bagus menurutku. Karena di situ aku merasa kurang tertantang, namun ya sudahlah, toh baru memulai.

Semakin lama semakin sering aku bermain layar lebar. Dan aku semakin tertantang! Aku belajar banyak hal, misalnya jadi belajar soal hewan, kebiasaan orang besar, cowok yang super macho, cowok cupu, manusia super kurus, dan sebagainya. Semuanya tentu demi peran yang aku ambil.

Namun terkadang, Robby seringkali cemburu jika aku harus berpasangan dengan perempuan cantik. Apa lagi saat ia tahu bahwa aku seringkali memperdalam peran dengan lebih banyak meluangkan waktu bersama lawan main.

"Gak salah kamu sampe bobo bareng sama Ratih?"

"Ya, kan, demi chemistry, beb."

"Nanti kalo kamu jadi suka sama dia, gimana?"

"Ya gak mungkin, aku cuma cinta sama kamu kok, gimana sih?"

"Tapi kenapa harus bobo bareng segala?"

"Bobo bareng doang, gak sampe berhubungan lho, beb."

"Ya kalo kalian jadinya keenakan dan lupa diri?"

"Ah kamu nih, udah fokus aja sama kerjaanmu. Banyak klien order karyamu, kan?"

Robby, Robby. Ih, cemburuan banget!

Waktu itu memang ada projek film di mana aku dan Ratih menjadi pasangan suami istri. Rasanya lucu bermain sama Ratih, karena dia itu adalah salah satu kawan terdekatku. Saat berlatih memperdalam skenario, yang ada kami banyak tertawa. Seakan aneh harus bermesraan dengan sahabatku sendiri.

Dan demi peranku tersebut, aku senantiasa mengajak Ratih ke mana-mana. Bahkan di luar kami seringkali sok-sok-an bermesraan hingga banyak orang yang menyangka bahwa Ratih berselingkuh denganku. Tanpa arahan gimik dari tim marketing, nama kami banyak disebut masyarakat dengan berbagai cibiran. Walau banyak yang bilang itu gimik, padahal itu hanya latihan peran saja, inisiatifku dengan Ratih.

Kami sama-sama tidak ada rasa, dan aku tidak pernah merasa nafsu dengan perempuan secantik apapun.

"Lo masih ya sama Robby? Cemburu gak dia sama lo?" tanya Ratih saat kami makan malam bersama di rumahnya.

"Tentu aja cemburu, Rat. Lagian mana nafsu gue sama lo, haha."

"Hahaha, iya ya. Eh, btw kemaren gue nonton lo di program TV. Di situ lo cerita kalo lo gak pernah ketemu bokap, yang bener lo?"

"Bener, lah desye dari gue bayi udah entah kemana, beb. Keluarga juga nutup-nutupin soal bokap."

"Lo gak kangen? Pengen ketemu gak sih sama bokap?"

"Gimana mau kangen, gue aja gak tahu mukanya. Hahaha. Kalo ketemu sih, ayo aja. Kadang suka penasaran, sih."

"Pasti gak enak ya kehilangan sosok ayah gitu dari kecil. Tapi pasti dia tahu sekarang lo seperti apa. Dan dia bangga!"

"Hahaha, nyokap gue udah yang terbaik, beb. Gue ngerasa sosok bapak tuh ada di dia juga, kok. Gue bangga punya nyokap kayak dia."

Kenapa Ratih jadi ngomongin soal keluarga gue, sih. Duh, jadi mellow, deh. Gak mungkin nangis dong, gue!

Malam itu, aku dan ratih bobo bareng dan berakting seperti sedang tidur dengan pasangan sendiri. Aku mencium keningnya, mengucapkan selamat tidur, walaupun pada akhirnya Ratih tertawa hingga keluar air mata, saking lucunya.

"Jujur, gue belum ngantuk. Ngobrol aja yuk, gimana?"

"Ya ampun, Rat, mau ghibah?"

"Nggak, cuma kadang ngerasa berdosa aja udah sering melawan aturan agama."

"Maksudnya? Ih, apaan sih lo, pagi buta ngomongin agama."

"Ya, kan lo tau ya, gue sama suami tuh open marriage. Padahal di agama gak boleh kan, ya. Harus setia sama pasangan hidup masing-masing."

"Yaudah, beb. Jalani dulu aja. Ya, lo kan juga tahu kalo gue juga berdosa banget kalo soal peraturan agama."

"Jadi, kapan kita tobat?"

"Hahaha, nggak tahu, deh. Gue sih mengalir aja. Yang penting sehat selalu, karir lancar, sama pasangan gak banyak drama."

"Iya, sih. Gue pun begitu. Semoga gue gak banyak drama juga sama suami."

"Ah, lo mah jago nyimpen drama. Tapi gue harap sih, kalian tetap jadi pasutri ya. Gue tahu kalian saling mencintai, tapi emang suka bosenan aja. Haha."

"Hahahaha, bisa aja lo. Udah ah, tidur aja!"

"Jangan pegang-pegang gue ya!"

"IH, NAJIS LO!" 

Kami beranjak tidur. Memulai mimpi indah. Berharap saat terbangun, kami memulai hari baru yang membahagiakan. 

Setidaknya saat itu kami merasa bahagia dengan apa yang sudah kami dapatkan. Hampir semua life goals sudah terlampaui.

Namun, namanya juga hidup, yang ternyata memang tidak sesempurna itu.

Tahun ini adalah tahun yang berat bagi kami, karena kami berdua sama-sama kehilangan soulmate. Meski begitu, kami yakin memiliki jiwa yang kuat untuk melewati semua cobaan ini....

(bersambung)

DISCLAIMER: Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelekkan seseorang/suatu kelompok tertentu. Setiap pembaca diharapkan membaca dengan bijak.

Comments
0 Comments

No comments

Gih kasi komen. Asal jangan nyebelin, berbau SARA dan porno ye. Yang SPAMMING bakal gue HAPUS.

Makasi temen-temen. HAPPY BLOGGING! :*

Powered by Blogger.